Haazihi Sabiili

Ahad, 6 Disember 2009

At Tarbiyah Adz Dzatiyah (Membina Integritas Diri)

Tabiat dakwah ini berkembang dan menyebar ke berbagai pelosok alam semesta. Karena misi dakwah ini adalah menyebarkan rahmat bagi dunia untuk seluruh umat manusia (Al Anbiya: 107).

Dengan begitu dakwah menjadi hak semua orang agar mereka meraih hidayah Allah SWT. Amatlah pantas semua kalangan mendapatkan nikmat dakwah. Atau paling tidak, semua manusia dapat merasakan rahmatnya ajaran ini. Akan tetapi kondisi semacam itu akan sangat dipengaruhi oleh kualitas kepribadian para penyeru dan aktivis dakwah.

Aktivis dakwah yang dapat memandu ajaran ini agar berkembang dan tersebar luas ke segenap pelosok bumi adalah mereka yang mampu meningkatkan integritas dirinya. Peningkatan diri kader dakwah selaras dengan berkembangnya dakwah yang menjadi tugas dan tanggung jawab mereka. Pengembangan dan peningkatan integritas diri bagi aktivis dakwah dikenal dengan sebutan Tarbiyah Dzatiyah (Pembinaan Integritas diri)

Kemampuan tarbiyah dzatiyah setiap kader akan menjadikan mereka mempunyai daya tahan terhadap berbagai ujian dan cobaan dakwah. Ia tidak mudah futur (malas-malasan), ia tidak mudah kendur semangat juangnya, ia tidak jumud dalam pemikirannya, ia pun tidak bingung menjawab berbagai tuduhan miring bahkan ia mampu menyelesaikan berbagai persoalan yang menghadangnya. Ia tidak akan menjadi kader yang “keder” lantaran selalu bersikap menunggu ‘intruksi atasan’ atau ‘menurut petunjuk murabbi’.

Dengan sikap itu kader dakwah tidak sangat bergantung pada bayanat pusat atau qararat qiyadah. Melainkan ia mampu mengembangkan dakwah sebagaimana mestinya. Dan dapat mengambil keputusan yang tepat.

Utusan-utusan Rasulullah SAW. telah membuktikan dirinya dalam mengembangkan dakwah di berbagai tempat. Mereka dapat bertahan sekalipun jauh dari Rasulullah SAW. dan komunitas muslim lainnya. Ja’far bin Abi Thalib diantaranya. Dia dan sahabat lainnya dapat tinggal di Habasyah dalam waktu yang cukup lama. Sekalipun mereka sangat merindukan berkumpul bersama dengan saudara muslim lainnya. Mereka dapat mempertahankan dirinya dalam keimanan dan ketaqwaan. Begitu kuatnya daya tahan mereka hidup bersama dakwah jauh dari saudara-saudaranya yang lain dalam waktu yang cukup lama. Hingga Rasulullah SAW. begitu bangga terhadap mereka di saat mereka pulang ke Madinah. Beliau menyatakan, ‘Aku bingung apa yang membuat senang diriku, apakah karena menangnya kita di Khaibar ataukah kembalinya kaum muslimin dari Habasyah?.

Demikian pula Mush’ab bin Umair sebagai duta Islam pertama dapat mengembangkan dakwah di Madinah dan berhasil membangun masyarakat di sana. Mush’ab sebagai guru pertama di Madinah dapat memperluas jaringan dakwah dan kadernya. Sehingga tempat itu menjadi basis komunitas umat Islam di kemudian hari. Dan menjadi mercusuar peradaban Islam.

Begitulah kepribadian kader dakwah yang mumpuni dalam mengemban amanah mulia. Mereka dapat menunaikan tugas tersebut dengan sebaik-baiknya. Lantaran tarbiyah dzatiyah yang ada pada diri mereka. Malah banyak tugas-tugas lain dapat diselesaikannya dengan nilai cumlaude.

Sebaliknya kader dakwah yang tidak mampu meningkatkan integritas dirinya cenderung linglung. Bahkan mungkin akan menimbulkan kegaduhan dalam kerja dakwah. Sebagaimana ungkapan pujangga lama

‘Al ‘Askarul ladzi tasuduhul bithalah yujidul musyaghabati,

kader yang tidak punya kemampuan untuk berbuat sesuatu sangat potensial membuat kegaduhan dalam kerja dakwah’.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui”. (Al Anfal: 27)

Asy Syakhshiyah Al Islamiyah Al Mutaharikah (Kepribadian Aktifis Islam)

Tidak dipungkiri bahwa Tarbiyah Dzatiyah menjadi kepribadian aktivis Islam. Bahkan Rasulullah SAW. menilai hal ini sebagai prasyarat untuk para duta Islam dalam mengembangkan dakwah. Karenanya hal ini menjadi point dalam fit and profer-test bagi mereka yang akan menjalani tugasnya. Sehingga seseorang yang diutus ke suatu tempat, Nabi SAW. mempertimbangkan kemampuannya dalam pengembangan integritas dirinya.

Hal ini sebagaimana yang dipertanyakan Rasulullah SAW. pada Mu’adz Bin Jabal saat akan diutus ke Yaman.

‘Wahai Mu’adz, bila kamu berada di tempat yang baru nanti, jika menemukan suatu persoalan apa yang akan kamu putuskan. Mu’adz menjawab, aku akan putuskan berdasarkan kitab Allah. Rasulullah SAW. pun melanjutkan, bila tidak kamu temukan pada kitab Allah, dengan apa kau putuskan. Jawab Mu’adz, aku akan tetapkan berdasarkan Sunnah Rasulullah. Nabi SAW. kemudian menanyakan kembali, bila tidak juga kamu dapati di dalamnya, apa yang akan kamu lakukan. Mu’adz menjawab, aku akan putuskan dengan akal pikiranku (ijtihadku)’. Ternyata jawaban Mu’adz sangat memuaskan hati Rasulullah SAW. Malah beliau memandang bahwa kualitas Mu’adz sudah memadai untuk mengemban tugas mulia tersebut.

Kapabilitas yang semacam itu diharapkan mampu menyelesaikan setiap permasalahan yang selalu muncul di lapangan dakwah. Sehingga ia tidak selalu menyerahkan masalah itu pada qiyadah dakwah ataupun kader lainnya. Dengan kemampuan itu kader dakwah tidak gamang dalam mensikapi berbagai urusan yang terkait dengan tanggung jawabnya.

Karena tanpa sikap itu persoalan dakwah akan bertambah pelik dan menambah beban qiyadah. Telah sering kita dengar qiyadah dakwah mengarahkan agar kader tidak selalu mengandalkan jawaban dari pusat atau menunggu bayanatnya. Melainkan mereka perlu mensikapi dengan cepat apa yang mesti diambil sikapnya untuk menuntaskan suatu permasalahan.

Meski demikian kitapun perlu melihat koridornya agar tidak terjebak dalam membebaskan diri untuk selalu bersikap di luar kendali qiyadah. Karena ini pun akan menimbulkan kekisruhan dalam struktural kendali dakwah. Seperti sikap Huzaifah ibnul Yaman sewaktu ditugaskan Rasulullah SAW. masuk ke barisan musuh. Huzaifah mendapati Abu Sufyan sedang memanaskan tubuhnya karena udara dingin. Saat itu Huzaifah mampu untuk membunuhnya, akan tetapi ia teringat pesan Rasulullah SAW. bahwa tugasnya waktu itu adalah memperhatikan kondisi musuh dan mengabarinya kepada Rasul. Sehingga ia urung untuk membunuhnya walau kesempatan itu ada di hadapannya..Karena itu perlu menempatkan secara imbang terhadap permasalahan ini.

Peningkatan integritas diri dan mematuhi rambu-rambu qiyadah.

Yang lebih berbahaya lagi bagi kader dakwah adalah bila tidak memiliki keduanya. Syaikh Hamid ‘Asykariyah menegaskan, bahwa ‘mereka yang sudah tidak punyai kebaikan (peningkatan integritas diri dan mematuhi rambu-rambu qiyadah). Mereka telah kehilangan kesadaran terhadap kemuliaan dakwah dan kepunahan prilaku taat pada qiyadah. Siapa yang telah kehilangan dua hal ini, maka mereka tidak ada gunanya tetap berada dalam barisan dakwah bersama kita.

Ada’u Mutathallibatil Manhaj (Menyelesaikan Tuntutan Manhaj)

Manhaj dakwah memberikan ruang yang banyak untuk sarana tarbiyah agar dapat merealisasikannya seoptimal mungkin. Baik melalui liqaat tarbawiyah, daurah, seminar, mukhayyam ataupun tarbiyah dzatiyah. Untuk mengaplikasikan manhaj dakwah yang begitu banyak dan padat tidaklah memadai dengan sarana tarbiyah regular. Karena keterbatasan alokasi waktu maupun keterbatasan Murabbi dalam menyelesaikan tuntutan manhaj. Maka tarbiyah dzatiyah menjadi sarana untuk menyelaraskan tuntutan manhaj tersebut.

Oleh karena itu perlulah dipahami dengan benar pada setiap kader dakwah agar dapat melakukan tarbiyah dzatiyah dalam dirinya. Hal ini akan sangat membantu mengaplikasikan nilai-nilai tarbawiyah secara maksimal. Dan dapat mencapai arahan manhaj yang menjadi acuan dakwah untuk mewujudkan kader yang siap meringankan perjalanan dakwah ini. Bila masing-masing kader sibuk untuk merealisaikan manhaj dalam dirinya sebagaimana tuntutan manhaj maka semua kader akan aktif dengan berbagai program dan kegiatannya.

Syaikh Abdul Halim Mahmud menyatakan bahwa tarbiyah dzatiyah merupakan tuntutan manhaj dakwah ini. Baik dalam arahannya agar menjadi kader dakwah yang sigap dan tanggap dalam menyambut tugas dakwah. Juga dalam muatannya yang tidak dapat diberikan secara kolektif karena berbagai pertimbangan. Namun dituntaskan secara personal dengan peningkatan kemampuan tarbiyah dzatiyah. Sehingga tampilah kader yang siap go publik dengan Allah SWT di jalan dakwah ini.

Tarqiyatu Ath Thaqah Adz Dzatiyah (Peningkatan Potensi Diri)

Peran serta kader terhadap dakwah sangatlah dimarakkan agar mereka dapat memberikan kontribusinya dan menjadi bagian dari dakwah. Kader yang dapat melakukan hal ini adalah mereka yang memahami betul potensi dirinya. Potensi yang dapat bermanfaat bagi perjalanan dakwah.
Menajamkan potensi diri kader menjadi aktivitas rutin. Seyogyanya semakin hari semakin tajam potensi yang dimilikinya. Grafik potensinya selalu naik seiring perjalanan waktu. Sebagaimana yang dialami para pendahulu dakwah. Mereka senantiasa berada dalam kondisi puncak setiap bergulirnya waktu.

Imam Ibrahim Al Harby selalu mengomentari sahabat-sahabatnya dengan ungkapan istimewa, katanya, ‘Aku sudah bergaul dengan fulan bin fulan beberapa waktu, siang dan malam. Dan tidak aku jumpai pada dirinya kecuali ia lebih baik dari kemarin’.

Layaknya aktivis dakwah dapat mengembangkan diri agar potensi yang dimilikinya betul-betul dapat didayagunakan seoptimal mungkin. Sehingga mereka bisa berada di garis terdepan. Bahkan sepatutnya dalam kondisi lebih baik dari hari-harinya yang telah lewat. Kondisi yang prima dan selalu lebih baik dari kemarin akan membuatnya istijabah fauriyah (dapat memenuhi panggilan dakwah dengan cepat) yang semakin komplek tuntutannya. Dengan potensi yang demikian, kader dakwah dapat menempati lini yang beragam dalam tugas mulia ini. Karenanya tarbiyah dzatiyah adalah upaya untuk meningkatkan dan menajamkan seluruh potensi kader dakwah yang beragam.

Adapun aspek-aspek yang perlu ditingkatkan kader dakwah dalam tarbiyah dzatiyah terhadap dirinya meliputi:

1. Ar Ruhiyah (Spiritual)

Sudah menjadi kebiasaan bagi para kader untuk dapat meningkatkan ketahanan ruhiyahnya. Sehingga ia tidak lemah dalam mengemban tugas mulia. Ruhiyah yang kokoh menjadi variable yang sangat menentukan.

Bila perlu setiap kader memiliki program personal dalam menjaga ketahanan ruhiyah. Seperti merutinkan diri untuk shalat berjamaah di mesjid, shaum sunnah, qiyamullail, sedekah, ziarah kubur ataupun aktivitas lainnya yang berdampak pada kesehatan ruhaninya.

Dengan upaya itu insya Allah maknawiyah kader tidak ringkih dan kendur. Kondisi maknawiyah yang rapuh akan berdampak negatif bagi dirinya dalam menjalankan tugas dakwah. Disamping itu, tampaknya para kader perlu mencermati naik turunnya ruhaniyah diri mereka sendiri. Bahkan sedapat mungkin mempunyai patokan yang terukur agar dapat dievaluasi dengan seksama baik melalui orang terdekat (murabbi, pasangan, teman) ataupun cukup diri sendiri.

Ambillah pelajaran dari sikap para sahabat dalam mentarbiyah ruhiyah mereka masing-masing. Ada yang selalu menjaga keadaan diri agar selalu dalam keadaan berwudlu’. Ada pula yang senantiasa mengunjungi orang yang sedang mengalami cobaan hidup. Ada juga yang berziarah ke makam, dan upaya lainnya.

Camkanlah nasehat Umar ibnul Khathtab, “hitung-hitunglah dirimu sebelum kamu dihisab Allah SWT. di hari Perhitungan (akhirat)”.

2. Al Fikriyah (Pemikiran)

Pada dasarnya pemikiran manusia senantiasa menuntut konsumsinya agar tidak mengalami kejumudan berpikir. Untuk memenuhi tuntutan tesebut tidaklah cukup mengandalkan muatan pemikiran dari majlis liqaat tarbiyah semata. Akan tetapi dapat mencari berbagai sumber penggalian berpikir. Bisa melalui penelaahan kitab, menghadiri acara kajian ilmiah ataupun kegiatan peningkatan wawasan lainnya.

Telah banyak paparan nash dari Al Qur’an ataupun Hadits yang menyuruh untuk memberdayakan kemampuan berpikir dengan melakukan pengamatan dan pengkajian. Sehingga pemikiran kader senantiasa dalam pencerahan bahkan ia selalu dapat mencari solusi yang pas. Bila demikian halnya pemikiran kader senantiasa berkembang dan menjadi pintu gerbang kemajuan intelektual.

Imam Hasan Al Banna dalam Majmu’atur Rasail menegaskan tentang kewajiban kader dakwah yang diantaranya adalah kewajiban membaca buku beberapa jam dalam setiap hari serta memiliki perpustakaan pribadi di rumahnya sekalipun kecil.

3. Al Maliyah (Material)

Dakwah juga dipengaruhi oleh kekuatan material. Tidak terkecuali para pengembannya. Karena itu setiap kader harus memiliki kemampuan interpreneurshipnya agar tidak menjadi beban orang lain.

Imam Hasan Al Banna menetapkan muwashafat kader yang diantaranya adalah memiliki kemampuan mencari penghidupan bagi dirinya (qadirun alal kasabi).

Para sahabat yang diridhai Allah SWT. telah memberikan pelajaran pada kita semua bahwa mereka tidak menjadi beban bagi saudara. Kaum Muhajirin yang datang ke Madinah tidak membawa apa-apa, namun mereka tidak mengandalkan bantuan kaum Anshar. Kaum Muhajirin mampu mengembangkan potensi maaliyah dirinya. Mereka pun akhirnya dapat hidup sebagaimana layaknya malah ada yang lebih baik dari kehidupannya di Mekkah.

4. Al Maydaniyah (Penguasaan Lapangan)

Penguasan lapangan juga hal sangat penting bagi perkembangan dakwah ini. Seorang kader mesti memahami medan yang dihadapinya dengan cepat. Penguasan lapangan yang cepat dan tangkap dapat memperoleh taktik dan strategi yang tepat untuk dakwah ini. Pengenalannya yang bagus dapat menentukan strategi apa yang cocok dan pas bagi wilayah tersebut.

Maka ketika para sahabat berada di tempat yang baru mereka mulai belajar untuk mengenal medan dan lingkungannya. Sehingga pejalanan dakwah mereka berkembang dengan pesat. Seperti dakwah di Madinah oleh Mush’ab bin Umair dan sahabat lainnya.

Dari sinilah setiap kader perlu mengenal dengan betul wilayahnya. Sehingga dapat terdeteksi dengan cepat mana yang menjadi peluang dakwah dan mana pula yang menjadi hambatannya. Sehingga ia dapat mensikapinya dari keadaan tersebut. Bila menemui sumbatan ia cepat mengantisipasinya.

5. Al Harakiyah (Gerakan Dakwah)

Penguasaan harakiyah pun menjadi aspek tarbiyah dzatiyah yang perlu diperhatikan sehingga kader dakwah bisa mengikuti lajunya gerakan dakwah. Ini bisa terjadi apabila seorang kader dapat menyelami geliat dakwah dan pergerakannya. Pemahaman terhadap gerakan dakwah yang tepat melahirkan sikap kader yang mengerti benar tentang sikap apa yang harus dilakukan untuk kepentingan dakwah.

Sebagaimana yang dilakukan Huzaifah Ibnul Yaman ketika masuk ke tengah barisan musuh. Saat kondisi malam yang gelap dan mencekam seperti itu, Abu Sufyan sangat khawatir pasukannya diinfiltrasi. Sehingga ia mengumumkan agar seluruh prajurit harus mengenal siapa yang ada di kiri kanannya. Setelah selesai memberikan komando itu Huzaifah lantas memegang tangan orang yang ada di sisi kanan dan kirinya sambil menanyakan siapa engkau. Tentu saja mereka menjawab saya fulan bin fulan. Dengan kesigapannya Huzaifah tidak ditanya orang.

Sasaran yang hendak dicapai dari tarbiyah dzatiyah bagi seorang kader dan perkembangan dakwah adalah sebagai berikut:

a. Al Munawaratul Al Harakiyah (Gerak Manuver Dakwah)

Sasaran tarbiyah dzatiyah ini adalah untuk dapat mengembangkan gerak manuver dakwah ke berbagai wilayah dan pelosok. Sehingga banyak wilayah dan manusia lain yang mendapatkan sentuhan dari dakwah dan kadernya. Wilayah dakwah semakin hari semakin meluas dan kader dakwahnya semakin hari semakin bertambah tentu juga peningkatan mutu kualitasnya. Dalam kajian Fiqhus Sirah Syaikh Munir Muhammad Ghadhban diungkapkan bahwa Rasulullah SAW. setiap tahun selalu mendapatkan informasi mengenai bertambahnya suku, kabilah atau orang yang tersentuh dakwah Islam dan menjadi pengikutnya yang setia. Ini tentu sangat terkait dengan para penyebar dakwahnya. Mereka adalah manusia-manusia yang selalu dalam kondisi meningkat iman dan taqwanya serta meningkat dalam merespon perintah dari Allah dan Rasul-Nya. Dengan kata lain bahwa tarbiyah dzatiyahnya sudah sangat mapan.

b. Al Matanah An Nafsiyah Ad Dakhiliyah (Soliditas Personal)

Tarbiyah dzatiyah juga untuk meningkatkan daya tahan kader. Kader yang tidak lemah mentalnya, tidak jumud pikirannya, tidak menjadi beban material kader lainnya, tidak bingung dengan sekitarnya dan tidak pula linglung atau ketinggalan jauh dari lajunya dakwah ini. Kader yang tidak menjadi beban bagi dakwah atau membuat bertambahnya beban pemikiran para qiyadah.

Dengan begitu akan muncul kader-kader yang tangguh dalam menunaikan amanah dakwah. Kader yang prima staminanya dalam menjalankan tugas. Sehingga perjalanan ini semakin lancar dan mulus untuk meniti jalan kemenangan dakwah. Bila hal ini tercapai dakwah tidak disibukan dengan urusan internal dan konfliknya. Sebaliknya para kader akan sibuk dengan maneuver dakwahnya.

Upaya Memulai Tarbiyah Dzatiyah Bagi Kader

Untuk dapat menjalankan program tarbiyah dzatiyah hendaknya perlu mempertimbangkan kiat berikut:

Pertama: Buatlah fokus sasaran tarbiyah dzatiyah yang akan dilaksanakan oleh masing-masing individu. Misalnya, aspek ruhiyah seperti apa yang diinginkan dengan gambaran dan ukuran yang jelas seperti shalat lima waktu berjamaah di mesjid, selalu membaca 1 juz Al Qur’an dalam setiap hari. Demikian pula aspek fikriyah ataupun aspek yang lainnya. Sehingga semakin teranglah fokus yang hendak dicapai.

Kedua: Setelah menentukan fokusnya maka mulailah memperhatikan sisi prioritas amal yang hendak dilakukan. Aspek mana saja yang akan dilakukan dengan segera. Hal ini tentu melihat pertimbangan kebutuhan saat ini. Misalnya aspek ruhiyah yang diprioritaskan maka buatlah program yang jelas untuk segera dikerjakan.

Ketiga: Sesudah itu mulailah melaksanakan dari hal yang ringan dan mudah dari program yang telah ditetapkan agar dapat dilakukan secara berkesinambungan. Keempat, agar dapat menjadi program kegiatan yang jelas tekadkan untuk memulainya dari saat ini dan berdoalah pada Allah SWT. agar dimudahkan dalam menjalankan ikrarnya. Kelima, untuk dapat bertahan terus melakukannya upayakan untuk memberikan sangsi bila melanggar ketentuan yang telah diikrarkan.

Wallahu ‘alam bishshawwab.

BERDOA DALAM BENTUK CELAAN... APAKAH DIBOLEHKAN ?

Salam perjuangan kepada semua...

Seminggu dua ini isu samada boleh atau tidak berdoa dalam bentuk cercaan dan celaan telah menghiasi akhbar dan media elektronik kita. Ianya menjadikan kita tertanya-tanya apakah solusi Islam dalam perkara ini.

Di sini, dipetik satu pandangan yang membolehkannya berdasarkan beberapa sandaran untuk menjadi renungan kita bersama.

PERTAMA;

Di awal dakwah, nabi SAW naik atas bukit safa, lalu berucap di atas bukit tersebut untuk menyampaikan kandungan dakwah nabi SAW. Di saat itu, Abu lahab marah dengan dakwah nabi SAW, menyebabkan beliau telah mengambil batu dan membaling ke arah nabi SAW.

Tindakan Abu Lahab tersebut dibenci oleh Allah, menyebabkan Allah menurunkan firman-Nya;

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ

Maksudnya;
"celakalah kedua tangan abu Lahab, dan sememangnya Abu lahab adalah celaka"

(Surah Al-lahab : 1)


KEDUA:

Firman Allah;

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أُولَئِكَ يُعْرَضُونَ عَلَى رَبِّهِمْ وَيَقُولُ الْأَشْهَادُ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمْ أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ

Maksudnya;
"Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah? Mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan mereka, dan para saksi akan berkata: "Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka." Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim"

(Surah Hud : 18)

KETIGA;

Firman Allah;

أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ أَنَّ عَلَيْهِمْ لَعْنَةَ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Maksudnya;
"Mereka itu (orang yang zalim), balasannya ialah: bahwasanya la'nat Allah ditimpakan kepada mereka, (demikian pula) la'nat para malaikat dan manusia seluruhnya"

(Surah Al-Imran : 87)


KEEMPAT:

Imam Al-Bukhari ada meriwayatkan hadis, bahawa nabi SAW ada berdoa dalam qunutnya;

اللَّهُمَّ الْعَنْ فُلَانًا وَفُلَانًا وَفُلَانًا

Maksudnya;
"Ya Allah, berilah laknat kepada fulan, fulan dan fulan"

Doa ini dibaca oleh nabi SAW setelah membaca;

سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ

Maksudnya;
"telah mendengar oleh Allah terhadap mereka yang memujinya. Wahai tuhan, kepujian itu layak untuk kamu" (Al-Bukhari : 3762)


KELIMA;

Imam At-tarmizi ada meriwayatkan hadis, bahawa Nabi SAW ada berdoa dalam peperangan uhud;

اللَّهُمَّ الْعَنْ أَبَا سُفْيَانَ اللَّهُمَّ الْعَنْ الْحَارِثَ بْنَ هِشَامٍ اللَّهُمَّ الْعَنْ صَفْوَانَ بْنَ أُمَيَّةَ

Maksudnya;
"ya Allah, berilah laknat terhadap Abu Sufyan. Ya Allah, berilah laknat terhadap Al-haris bin Hisyam. Ya Allah, berilah laknat terhadap Safwan bin Umayyah"

Ekoran doa nabi SAW itu, menyebabkan Allah SWT menurunkan firman-Nya;

لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ

Maksudnya;
" Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim."

(Surah Al-Imran : 128)

Kemudian dari turunnya ayat ini, menyebabkan mereka yang nama-nama mereka disebut oleh nabi dalam doa tersebut bertaubat. Dan Allah telah mengampun dosa mereka, bahkan selepas itu, mereka menjadi orang islam yang baik. (At-tarmizi : 2930)

KEENAM;

Imam At-tibrani meriwayatkan hadis. Bahawa nabi SAW berdoa ketika baginda takut/bimbang terhadap sesuatu kaum;

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ شُرُورِهِمْ، وَنَدْفَعُكَ فِي نُحُورِهِمْ

Maksudnya;
"Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung dengan kamu daripada segala kejahatan mereka, dan kami minta pertahanan kamu pada tengkok-tengkok mereka" (Al-Mukjam Al-kabir : 1579)

* maksud dengan doa "kami minta pertahanan kamu pada tengkok-tengkok mereka", adalah doa agar mereka binasa.

ISTIDLAL

Dari Ayat-ayat al-quran dan hadis-hadis nabi SAW ini, dilihat bahawa Allah sendiri membenarkan ungkapan celaan dan laknat diberikan kepada mereka yang zalim. Bukan sekadar itu sahaja, mendoakan agar diberikan laknat kepada mereka terbabit pun dibenarkan dalam islam.

Makanya, terlebih dibenarkan dalam islam apabila mendoakan kecelakaan seseorang itu 'dita'liqkan' dengan sesuatu amalan kezaliman yang bakal dilakukan. Ia sedikit sebanyak, merupakan salah satu cara untuk mencegah seseorang itu daripada melakukan kezaliman.

Sabda nabi SAW;

انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْصُرُهُ إِذَا كَانَ مَظْلُومًا أَفَرَأَيْتَ إِذَا كَانَ ظَالِمًا كَيْفَ أَنْصُرُهُ قَالَ تَحْجُزُهُ أَوْ تَمْنَعُهُ مِنْ الظُّلْمِ فَإِنَّ ذَلِكَ نَصْرُهُ

Maksudnya;
"tolonglah saudara kamu yang zalim dan yang kena zalim"

Seorang lelaki bertanya, "wahai rasulullah, aku akan menolong seseorang yang dizalimi. Bagaimana pula, hendak menolong orang yang zalim?"

Jawab nabi,
"berhentikan dia daripada melakukan kezaliman, maka itu adalah cara kamu menolong dia" (Al-bukhari : 6438)

Dari hadis ini, amat nyata bahawa nabi SAW menyatakan bahawa perlu dilakukan tindakan yang boleh memberhentikan seseorang yang zalim itu daripada dia melakukan kezaliman.

Justeru, jika dengan cara menyebut akan berdoa kebinasaan terhadap orang yang zalim dapat memberhentikan dia dari melakukan kezaliman, maka itu merupakan tindakan yang tidak salah dalam islam, malahan ia adalah sesuatu yang disyariatkan dalam islam.


Sekian

Ada apa dengan USRAH?

Prof Dr. Taufik Yusuf al-Wa’iy di dalam bukunya Al-Quduratu Adz-Dzihniyatu wadz Dzatiyatu lil Murobbi wad Da’iyati menjelaskan peranan sebagai seorang murabbi. Antara peranannya ialah berusaha dan berperanan dalam menjayakan agenda usrah dan berupaya merealisasikan rukun-rukun usrah. Di dalam tulisan tersebut, beliau menjelaskan manfaat-manfaat usrah.

Antara manfaat-manfaat usrah ialah:

Manfaat untuk pembentukan individu

* Membantu membentuk keperibadian muslim sejati yang bersepadu dan holistik samada dari aspek akidah, pemikiran, keilmuan, perilaku, gerakan dan pengurusan.

* Memberikan latihan aplikatif dalam menerapkan prinsip kebebasan berfikir dan mendengar pandangan orang lain serta tidak memandang rendah atau remeh pendapat orang lain.

* Ia juga medium seorang muslim memperolehi latihan dan pembiasaan, mengimplementasikan makna ukhuwwah.

* Ia juga mendidik setiap anggota agar berupaya melakukan tarbiyah dzatiyyah (pendidikan kendiri - self learning).

* Ia juga berperanan mengembangkan keupayaan (capability) dan kompetensi anggota, melatih ahli teknik problem solving (penyelesaian masalah) dan mengatasai hambatan dalam amal islami (halangan peribadi, masalah fitrah, kepelbagaian karektor dan sebagainya).

* Ia merupakan proses melatih individu agar berupaya memikul mas’uliah yang dipertanggungjawabkan ke atasnya.


Manfaat kepada pembinaan keluarga Islam

* Usrah membantu setiap akh dalam memilih isteri yang beragama dan berakhlak mulia.

* Membentuk rumahtangga muslim yang islami dimulai dari perilaku dan akhlak suami isteri, cara berpakaian, berinteraksi dan sebagainya.

* Wahana untuk mendidik anak-anak dengan pendidikan Islam.


Manfaat bagi sebuah organisasi (jamaah)

* Alat memperkukuh ikatan ukhuwwah antara ahli dan kepemimpinan organisasi melalui proses latihan, aplikasi dan mentoring (penyeliaan).

* Membentuk arus kesedaran anggota terhadap isu-isu semasa sama ada dari aspek politik, sosial dan ekonomi.

* Usrah juga mampu mengaplikasikan makna izzah terhadap Islam diterapkan ke dalam jiwa, memantapkan iltizam terhadap perilaku dan akhlak Islam.

* Ia juga merealisasikan makna wala' dan iltizam jama’ie di dalam organisasi.

* Ia juga mendidik anggota makna intima’ haraki di dalam berjamaah serta memahamkan konsep pengurusan dalam beramal.


Manfaat kepada masyarakat

* Usrah mendidik akh agar berperanan di dalm sektor masyarakat dengan memasuki wilayah umum seperti sekolah, universiti, kilang, yayasan, lembaga, khidmat masyarakat dan jaringan sosial.

* Justeru setiap anggota harus tampil sebagai teladan (qudwah) di dalam keikhlasan, keadilan dan memenuhi hak-hak individi di dalam masayarakat.

* Usrah menjadi inkubuter mengkaji aspek negatif dan faktor-faktor kegagalan institusi masyarakat melalui pelatihan, kajian dianogsis dan penyelesaian aplikatif.

* Ahli usrah perlu terlibat aktif di dalam aktiviti-aktiviti kemasyarakatan.

* Setiap ahli perlu dibekalkan informasi dan pengetahuan berkaitan realiti masyarakat agar dia mampu berperanan dan beraksi sebagai jurubicara umat dan penyelesai masalah.

* Setiap ahli harus menyerap dan melibatkan diri di dalam kelab-kelab sukan, lembaga sosial, institusi kebudayaan serta mempengaruhi tokoh-tokoh dan individu yang berpengaruh di dalam masyarakat.

Sabtu, 5 Disember 2009

Shidqul Intima (Menjadi Anggota Jamaah Yang Sebenarnya)

1. Beza Jamaah Dengan Perkumpulan (Tajammu’)

Tajammu’ :

  • Berdiri dan bubar berdasarkan pendapat, kesenangan dan keinginan personal,
  • Tidak ada nizham yang mengikatnya,
  • Tidak ada pula kaidah-kaidah yang mengatur pergerakannya.
  • Setiap orang memiliki pendapat dan kepribadiannya secara mandiri.

Sedangkan jama’ah memiliki:

  • Sistem dan manhaj hayah,
  • Perancangan strategi, sasaran taktik,
  • Nizham idari, struktur organisasi, dan jalur perintah (line of command),
  • Perlembagaan (Laihah), dan perturan (qanun),
  • Program dan instrumen kerja

2. Syahwat ataukah Syubhat?

Beliau (Imam Al-Banna ) pun meminta Ikhwan untuk memperhatikan bahaya urusan ini dan akibatnya yang sangat fatal. Beliau juga menekankan pentingnya melakukan pengawasan terhadap barisan serta membersihkannya dari orang-orang lemah.

Beliau berkata: “Jika ada di tengah-tengah kamu orang yang sakit hatinya, cacat tujuannya, tersembunyi keinginannya, dan cacat masa lalunya, maka keluarkanlah mereka dari dalam barisan kalian, sebab orang seperti ini menjadi penghalang rahmat dan penutup taufiq Allah SWT”.

3. Emosi ataukah Akal

“Kekanglah lompatan-lompatan emosi dengan akal, dan terangi cahaya akal dengan bara emosi, kekang khayalan yang ada dengan kebenaran hakikat dan realiti, ungkap berbagai hakikat dalam sorotan khayalan yang memukau dan berkilau, dan janganlah seluruh kecenderungan diikuti, sebab ia akan menjadikannya seperti tergantung (tidak membumi dan tidak pula melangit)”.

Ini adalah kata-kata abadi yang diarahkan oleh Imam Al-Banna rahimahullah kepada para ikhwan. Taujih (arahan) ini dimaksudkan untuk:

  • Mendisiplinkan barisan muslim agar tidak terjadi inhiraf dalam pemahaman, pemikiran ataupun perilaku.
  • Merealisasikan fokus tawazun dan i’tidal (moderasi) dalam manhajiyyatut-tafkir al-ikhwani (metodologi berfikir Ikhwan).
  • Menjaga barisan agar tidak dipermainkan oleh berbagai emosi yang meluap nan membara atau akal pikiran yang berfikir dengan gaya para ahli falsafah.

Jadi, jangan ada dominasi akal atas emosi dan jangan ada permainan perasaan yang mendominasi pemikiran. Taujih ini adalah pandangan yang objektif, seimbang, moderat, dan bimbingan dari seorang panglima yang mengasaskan dakwah ini, semoga Allah SWT merahmatinya.

4. Hawa Nafsu ataukah Prinsip?

Imam Al-Banna menulis Ushul ‘Isyrin ini:

  1. Dalam rangka kesatuan pemikiran, gerakan dan manhaj tarbawi bagi Jama’ah di tengan berbagai badai,
  2. Agar tidak muncul berbagai madrasah pemikiran atau “jama’ah-jama’ah” yang menyusup ke tengah-tengah Jamaah,
  3. Untuk tidak memberi toleransi terhadap adanya pemikiran yang menyusup atau gagasan yang menengtang Jamaah –disebabkan adanya emosi yang meluap yang bermaksud menyusupbarisan,
  4. Untuk menjaga jama’ah agar tetap berada di atas garis tarbawi dan da’awi yang asal, menepis berbagai kotoran dan upaya-upaya penumpangan terhadapnya,
  5. Dan pada akhirnya agar menjadi rujukan saat terjadi ikhtilaf (perbedaan) atau saat munculnya satu bentuk inhiraf, sebab Ushul ‘Isyrin dapat membantu penyelamatan amal, dan implementasi yang baik yang akan menjaga Jama’ah dan anggotanya dari berbagai penyelewengan.

5. Orang-Orang yang Muncul di Permukaan ataukah Tersembunyi

Kepada Ikhwan yang seperti itulah yang mulia Mursyid ‘Am Syeikh Mahdi ‘Akif mengarahkan taujih-nya dalam risalahnya yang mutaakhir “Dan bagi mereka yang melihat bahwa dalam menjalani jalan dakwah ini terdapat peluang populariti umum dan gemerlapnya para bintang, sungguh ia telah benar-benar merugi, sebab, para pelaku dakwah tidak melihat adanya balasan selain pahala Allah SWT jika mereka ikhlas, dan syurga jika Allah SWT mengetahui bahwa dalam dirinya terdapat kebaikan, dan mereka itu beginilah adanya, orang-orang yang tersembunyi dari sisi tampilan umum, dan miskin dari sisi material, keadaan mereka adalah men-tadh-hiyah-kan apa yang mereka miliki, dan memberikan apa yang ada di tangan mereka, harapan mereka adalah ridha Allah, dan Dia-lah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong”.

6. Tsawabit ataukah Mutaghayyirat?

Ia merupakan tsawabit al-’amal dalam dakwah kita. Darinya menjadi jelas sebagian dari kaedah-kaedah tanzhimi kita:

  • Siapa menyalahkan siapa?
  • Siapa meng-audit siapa?
  • Adakah anggota (person) berhak menyalahkan Jamaah? Ataukah sebaliknya?!

Perbezaan antara nasihat, tidak mendiamkan kesalahan dan kritik membina yang diletakkan pada tempatnya yang benar di satu sisi dan antara memaksakan pendapat. Di manakah nasihat? Bilakah diberikan? Dan apakah ia bersifat mulzimah (mengikat)?

7. Membela ataukah Menjaga

Shidqul intima’ wal wala’ (keanggotaan dan kesetiaan yang benar) terhadap dakwah yang diberkati ini, yang ada di dalam jiwa seorang akh yang shadiq, diukur berdasarkan tingkat pelaksanaannya terhadap tugas yang diminta darinya untuk dakwahnya, dalam berbagai keadaan, dalam zhuruf apapun.

Hendaklah kita menjaga faktor-faktor kekuatan di dalam Jama’ah, yang wujud dalam:

  • Kesatuan pemikiran, keanggotaan dan tanzhimi
  • Keterikatan barisan yang tegak di atas ukhuwwah,
  • Pelaksanaan hak-hak ukhuwwah secara sempurna yang berupa: cinta, penghargaan, bantuan dan itsar
  • Menghadiri berbagai pertemuan jama’ah dan jangan tidak hadir kecuali karena adanya alasan yang “memaksa”.
  • Selalu mendahulukan ber-mu’amalah dengan ikhwah
  • Menerima pendapat dalaman yang berbeza
  • Saling memberi nasihat, tidak mendiamkan kesalahan dan berterus terang dalam memberikan mauizhah, akan tetapi pada tempatnya yang wajar.
  • Bekerja untuk menyebarluaskan dakwah kita di semua tempat.
  • Memberitahukan kepada qiyadah tentang berbagai situasi dan keadaan kita secara sempurna.
  • Tidak melakukan suatu pekerjaan yang memiliki pengaruh secara mendasar kecuali dengan izin
  • Selalu berhubung secara ruhi dan amali dengan dakwah
  • Selalu memandang diri sendiri sebagai perajurit di berek yang menunggu segala perintah
  • Melepaskan diri dengan berbagai hubungan dengan institusi atau jama’ah apapun yang tidak membawa maslahat bagi fikrah kita, khususnya jika hal ini diperintahkan

Kita (Ikhwan) dan Palestin

Sejak bermulanya dakwah Ikhwan, kita telah menyedari bahayanya perancangan Zionis untuk menakluk dan menjajah Negara Islam dan umatnya.

Bersama kemunculan gerakan penentangan di Palestin pada awal tahun 30an Masihi pada kurun yang lalu, Ikhwan telah berdiri bersama-sama rakyat Palestin dengan menghulurkan bantuan kewangan sedaya mampu di samping bertungkus lumus memberi kesedaran tentang bahayanya ancaman zionis.

Ketika perancangan melahirkan Negara haram zionis mula dilaksanakan, katibah-katibah Ikhwan berbodong-bondong turun ke bumi Palestin yang diberkati untuk mempertahankan kedaulatan Bangsa Arab, Agama Islam dan rakyat Palestin di bumi Palestin. Anggota-anggota Ikhwan telah melakarkan babak-babak perjuangan yang membanggakan bersama rakyat Palestin menentang kemaraan penjajah. Semua itu telah disaksikan oleh para pemerhati dan ahli sejarah.

Di saat sempurnanya konspirasi jahat untuk menduduki bumi Palestin, Imam asy-Syahid, pengasas jamaah Ikhwan telah mengorbankan hidupnya untuk menghalang kerajaan minority Saadiyyah di Mesir bekerjasama dengan Inggeris untuk meletakkan batu asas kewujudan zionis. Anggota-anggota Ikhwan telah mengorbankan sebahagian umur mereka berbulan-bulan lamanya di dalam penjara, malah ada yang bertahun-tahun disiksa. Jamaah sendiri diharamkan atas desakan musuh agar Negara haram zionis dapat dibangunkan di bumi Palestin.

Selepas itu anggota-anggota Ikhwan serta umat Arab hidup di bawah pemerintahan tentera, pengguling kuasa dan raja-raja yang hanya diam membisu terhadap kekejaman yang dilakukan ke atas Palestin kerana menjaga kedudukan serta kuasa mereka lebih daripada lima dekad lamanya, sehingga kedudukan zionis bertambah kukuh. Mereka telah membangunkan projek senjata nuclear, meluaskan penguasaan mereka menerusi serangan-serangan yang merugikan pemerintah Arab yang lemah. Apa yang ditumpukan oleh kerajaan Arab hanya sekadar menghilangkan kesan penjajahan zionis ke atas Mesir, Syria dan Jordan sahaja. Mereka tidak berusaha untuk mengembalikan Palestin, membebaskan al-Quds dan mengambil semula tempat-tempat suci yang dirampas seperti Masjid al-Aqsa dan Kanisah (Gereja) al-Qiamah.

Wahai Ikhwan Muslimun,

Mengapa kita bangkitkan semua pengorbanan yang telah dicurahkan demi Palestin?
Mengapa kita terus bermati-matian mempertahankan hak orang Islam, Arab dan Palestin di bumi Palestin?

Jawapan paling ringkas ialah kerana :
- ini adalah kewajipan kita! Kewajipan yang dituntut oleh Syara’, peranan kita terhadap tanah air dan tugas kita terhadap bangsa.
- projek zionis dan penularan kuasanya di peringkat tempatan dan peringkat dunia bertentangan dengan projek Islam yang didokong oleh Ikhwan Muslimun.
- kemerdekaan kita, kemuliaan kita dan kebangkitan kita sebagai umat Arab dan Islam tidak mungkin akan terlaksana dengan kewujudan penjajah zionis yang merupakan duri di dalam hati umat Arab dan Islam, duri yang sentiasa mencucuk-cucuk sehingga darah kita sentiasa mengalir, tenaga dan keupayaan kita tumpah secara sia-sia dan menjadi penghalang kepada kemajuan kita.
- seruan fitrah insaniah yang menuntut untuk membela orang-orang yang dizalimi, serta kefarduan yang diwajibkan oleh Syara’ ke atas kita. Firman Allah bermaksud: “Dan mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah, baik lelaki, perempuan maupun anak-anak yang berdoa, “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang penduduknya zalim. Berilah kami pelindung dari sisi-Mu, dan berilah kami penolong dari sisi-Mu.” (An-Nisaa’:75)
- seluruh ulamak Islam telah memutuskan bahawa jihad adalah wajib bagi mengembalikan bumi umat Islam daripada tangan perampas dan untuk menghadapi sebarang konspirasi yang ditujukan untuk menundukkan rakyat Palestin, bangsa Arab dan umat Islam. Tuntutan supaya berdamai atau meletakkan senjata bererti menyerah kalah yang sangat hina.

Lantaran itu semua, selama ¾ kurun lamanya Ikhwan telah mempersembahkan pengorbanan jiwa dan harta demi melaksanakan tuntutan Syara’ ke atas kita. Dan kita akan terus menghulurkan segala yang berharga dan bernilai demi menghadapi kezaliman dan penindasan. Kita akan terus berpegang kepada janji kita dengan Allah ‘Azza wa Jalla, berdiri teguh di atas pendirian kita yang jelas dalam menentang kezaliman dan keganasan, menentang penjajahan dan penaklukan, menentang kediktatoran dan kuku besi, sehingga terlaksana harapan umat dalam membebaskan Palestin, seluruh bumi Palestin, mengembalikan masjid al-Aqsa yang dirampas. Mungkin dengan sebab itu kita dapati tekanan terhadap Ikhwan semakin memuncak kerana sikap kita yang sentiasa berusaha menghulurkan bantuan dan dokongan kepada saudara kita di Palestin dengan apa cara sekalipun.

Oleh kerana itu wajib di atas setiap akh mulim, setiap usrah muslimah, setiap umat Islam tanpa mengira bangsa dan aliran kefahaman, wajib berdiri teguh di sisi hak yang dirampas di Palestin dengan:
- Berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla
- Memberi kesedaran tentang isu Palestin
- Menyokong pendirian rakyat Palestin
- Memberi bantuan kepada saudara kita di Palestin
- Menentang perancangan damai yang ditaja oleh musuh dan mendedahkannya kepada umum
- Menyebarkan fikrah ini kepada dunia seluruhnya untuk menarik sokongan massa terhadap hak rakyat Palestin
- Menggesa umat Islam di semua tempat agar menentang kemungkaran dan salah guna kuasa di Negara-negara Arab dan Negara-negara Umat Islam
- Menentang sebarang percubaan untuk menunudukkan bangsa Arab dan umat Islam
- Menghalang bertapaknya zionis di mana-mana jua dan menghalau mereka keluar dari sempadan Negara kita.

Allahu Akbar wa liLlahil-hamd
“… Dan orang-orang yang zalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.” (Asy-Syu’araa’:227)

Perspektif Ats-Tsiqah Yang Perlu diMiliki Oleh Setiap Ikhwah

Imam Syahid berkata: “Yang saya maksud dengan tsiqah adalah rasa puasnya seorang prajurit atas komandannya dalam hal kemampuan dan keikhlasan; dengan kepuasan mendalam yang dapat menumbuhkan rasa cinta, penghargaan, penghormatan dan ketaatan”. Allah SWT berfirman:

“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya” (An Nisa:65)

Pemimpin adalah sebahagian dari dakwah. Tiada dakwah tanpa kepemimpinan. Sikap saling mempercayai antara pemimpin dan yang dipimpin, menjadi kayu ukur yang menentukan kekuatan sistem jamaah, kemantapan gerak langkah, kejayaan mencapai tujuan serta kemampuan mengatasi pelbagai rintangan yang menghalang..

“Maka lebih utama bagi mereka ketaatan dan perkataan yang baik” (Muhammad: 21).

Kepemimpinan –dalam dakwah Ikhwan—memiliki hak sebagaimana hak orang tua dalam hubungan batin; hak seorang guru dalam penyampaian ilmu; hak seorang syeikh dalam pendidikan rohani; dan hak pemimpin dalam menentukan percaturan politik secara umum bagi dakwah. Dakwah kita menghimpunkan nilai-nilai tersebut secara keseluruhan.

Musuh-musuh Islam menyedari bahawa Islam adalah musuh terbesar. Sejarah masa silam dan realiti masa kini telah membuktikan kepada mereka bahawa apabila umat kita telah menemui jalan kebenaran menuju Islam, maka kekuasaan musuh akan terancam runtuh dan lenyap. Pihak musuh tidak takut kepada Islam yang “lunak” yang tidak memiliki kekuatan, tetapi mereka takut kepada Islam dalam bentuk gerakan jihad yang menggabungkan seluruh kekuatan kaum muslimin dan menyatukan barisan mereka untuk menghadapi musuh.

Wahai Ikhwan, oleh kerana dakwah kita bertunjangkan kepada kekuatan aqidah dan pergerakannya secara besar-besaran adalah untuk melawan musuh-musuh Islam dan menggagalkan perancangan mereka, maka sudah tentulah amat wajar jikalau pihak musuh sentiasa berusaha mengerahkan segala senjata dan kemampuan untuk menghadapi dakwah kita. Bahkan setiap inci ruang dan peluang akan mereka manfaatkan untuk memerangi dan menghancur leburkan dakwah kita.

Tektik paling merbahaya dan licik yang digunakan oleh pihak musuh ialah dengan menimbulkan ‘perpecahan dalaman’ di dalam dakwah, sehingga memungkinkan mereka memenangi pertarungan kerana kekuatan dakwah kita akan menjadi lemah akibat perpecahan yang berlaku. Unsur yang paling efektif bagi menimbulkan perpecahan dalaman dalam dakwah adalah hilangnya tsiqah (kepercayaan) antara ahli dan pihak pimpinan. Kerana apabila ahli telah tidak memiliki kepercayaan kepada pimpinannya, bermakna ketaatan akan tercabut dari dalam jiwa mereka. Bila ketaatan telah hilang, maka tidak mungkin akan wujud kepemimpinan dan kesannya tidak mungkin jamaah akan dapat wujud.

Oleh karena itulah, Imam Syahid menekankan rukun tsiqah dalam “risalah ta’lim” dan menjadikannya sebagai salah satu rukun baiah. Ia menjelaskan perlunya rukun ini dalam menjaga keutuhan dan kesatuan jamaah. Ia mengatakan: “…Tiada dakwah tanpa kepemimpinan. Sikap saling mempercayai antara pemimpin dan yang dipimpin, menjadi penentu kekuatan sistem jamaah, kemantapan gerak langkah, kejayaan mencapai tujuan serta kemampuan mengatasi pelbagai rintangan yang menghalang..

“Maka lebih utama bagi mereka ketaatan dan perkataan yang baik” (Muhammad: 21).

…”Dan tsiqah terhadap pemimpin merupakan segala-galanya bagi kejayaan dakwah”

Bukanlah menjadi syarat bahawa pemimpin yang berhak mendapat tsiqah ahli adalah pemimpin yang memiliki segala kemampuan sebagai seorang yang paling kuat, paling bertaqwa, paling memahami dan paling fasih dalam berbicara. Syarat seperti ini hampir sukar diperolehi, bahkan hampir tidak dapat dipenuhi setelah wafatnya Rasulullah SAW.

Cukuplah seorang pemimpin itu, merupakan seorang yang dianggap mampu oleh saudara-saudaranya untuk memikul amanah (kepemimpinan) yang berat ini. Kemudian apabila ada seorang ikhwah (saudara) yang merasakan bahawa dirinya atau mengetahui orang lain memiliki kemampuan dan bakat yang tidak dimiliki oleh pemimpinnya, maka hendaknya ia mendermakan kemampuan dan bakat tersebut untuk digunakan oleh pemimpin, agar dapat membantu tugas-tugas kepemimpinan. Bukan menjadi pesaing bagi pimpinan dan jamaahnya.

Saudaraku, mungkin engkau masih ingat dialog yang terjadi antara Abu Bakar ra. Dan Umar ra. Sepeninggal Rasulullah saw. Umar ra. Berkata: “Hulurkanlah tanganmu! Aku akan membaiahmu” Abu Bakar berkata: “Akulah yang membaiahmu” Umar berkata: “kamu lebih utama daripada aku” Abu Bakar berkata: “kamu lebih kuat daripada aku” Setelah itu, Umar berkata: “kekuatanku kupersembahkan untukmu karena keutamaanmu” Dan Umar ra. benar-benar menjadikan kekuatannya sebagai pendukung Abu Bakar ra.

Ketika seorang bertanya kepada Imam Syahid, “bagaimana bila suatu keadaan menghalangi kebersamaanmu dengan kami? Menurutmu siapakah orang yang akan kami lantik sebagai pemimpin kami?” Imam Syahid menjawab: “Wahai Ikhwan, lantiklah menjadi pemimpin orang yang paling lemah di antara kalian. Kemudian dengarlah dan taatilah ia. Dengan (bantuan) kalian, ia akan menjadi orang yang paling kuat di antara kalian”

Wahai Ikhwan, mungkin kalian masih ingat perselisihan yang terjadi antara Abu Bakar dan Umar dalam menghadapi orang-orang yang tidak mau mengeluarkan zakat. Sebahagian besar sahabat berpendapat seperti pendapat Umar, iaitu tidak memerangi mereka. Namun demikian, ketika Umar mengetahui bahwa Abu Bakar bertegas untuk memerangi mereka, maka ia mengucapkan kata-katanya yang terkenal, yang menggambarkan ketsiqahan yang sempurna, “Demi Allah, tidak ada hal lain yang aku fahami kecuali Allah telah melapangkan dada Abu Bakar untuk memerangi (mereka). Karena itu, aku tahu bahwa dialah yang benar”

Andai Umar ra. tidak memiliki ketsiqahan dan ketaatan yang sempurna, maka jiwanya dengan mudah akan dapat memperdayakannya. Memperdaya bahwa dialah yang benar, apalagi setelah dia mendengar Rasulullah saw bersabda, “Allah swt. telah menjadikan al-haq (kebenaran) pada lisan dan hati Umar”

Alangkah perlunya kita mencontohi sikap seperti Umar ra., di saat terjadi perbezaan pendapat di antara kita, terutama dalam keadaan di mana kita tidak pernah mendengar Rasulullah saw. memberikan pengesahan kepada salah seorang di antara kita, bahwa kebenaran itu pada lisan dan hatinya.

Menyedari betapa pentingnya ketsiqahan terhadap fikrah dan ketetapan pimpinan, maka musuh-musuh Islam berusaha sekuat tenaga untuk menimbulkan keraguan-keraguan pada Islam, jamaah, manhaj jamaah dan pimpinannya. Dan, betapa banyak serangan yang dilancarkan untuk misi tersebut.

Oleh karena itu, seorang aktivis jangan sampai terpengaruh oleh serangan-serangan tersebut. Ia harus yakin bahwa agamanya adalah agama yang hak, yang diterima Allah swt. Ia harus yakin bahwa Islam adalah manhaj yang sempurna bagi seluruh urusan dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Ia harus tetap tsiqah bahwa jamaahnya berada di jalan yang benar dan selalu merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah dalam setiap langkah dan tindakannya. Ia harus tetap tsiqah bahwa pimpinannya selalu bercermin pada langkah Rasulullah saw. serta para sahabatnya dan selalu tunduk pada syariat Allah dalam menangani persoalan yang muncul ketika melakukan aktiviti serta selalu mengutamakan kemaslahatan dakwah.

Apabila seorang aktivis mendengar sesuatu atau ragu-ragu tentang sesuatu, maka jangan dibiarkan ia berlarutan. Tetapi sebaiknya segeralah tabayun (re-check) terhadap hakikat yang sebenarnya, sehingga dadanya tetap bersih dari buruk sangka dan ketsiqahannya tetap terjaga. Dengan itu ia telah memenuhi seruan Allah swt. terhadap hamba-hamba-Nya yang beriman:

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (Al-Hujarat:6)

Allah swt. menegur segolongan orang yang melakukan kesalahan dalam firman-Nya:

“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau pun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu)”. (An Nisa:83)

Kami ingin mengingatkan bahwa adakalanya sebahagian surat kabar atau media massa lainnya mengutip pembicaraan atau pendapat yang dilakukan oleh pimpinan jamaah, dengan tujuan untuk menimbulkan keragu-raguan, menggoncangkan kepercayaan, dan menciptakan ketidakstabilan di dalam susuk tubuh jamaah.

Oleh itu, seorang aktivis muslim tidak sewajarnya menyimpulkan suatu hukum berdasarkan apa yang dibaca di dalam media massa. Malah tidak boleh melunturkan tsiqah-nya dan tidak boleh menyebarkan atas dasar kebenaran. Sebaliknya ia harus melakukan tabayyun (re-check) terlebih dahulu.

Mengenai rukun tsiqah ini, Imam Syahid berkata: “Sesungguhnya, tsiqah kepada pimpinan merupakan segala-galanya bagi kejayaan dakwah. Oleh itu, aktivis yang tulus ikhlas harus mengutarakan beberapa pertanyaan berikut kepada diri sendiri, untuk mengetahui sejauh mana ketsiqahan dirinya kepada pimpinannya:

1. Sudahkah mengenal pemimpin dan mengamati seluruh kehidupannya?

2. Percayakah pada kemampuan dan keikhlasannya?

3. Sanggupkah menganggap seluruh perintah yang diberikan pemimpin untuknya –tentunya yang tidak berunsur maksiat- sebagai arahan yang mesti dilaksanakan tanpa curiga, tanpa ragu, tanpa mengurangi dan memberi komen dengan disertai nasihat untuk mencapai kebenaran?

4. Sanggupkah menganggap dirinya salah dan pemimpinnya benar, jika terjadi pertentangan antara sikap pemimpin dan apa yang ia ketahui dalam masalah-masalah ijtihadiyah yang tidak ada teks tegasnya di dalam syariat.

5. Sanggupkah meletakkan seluruh aktiviti kehidupannya dalam urusan dakwah? Apakah dalam pandangannya pemimpin berhak untuk men-tarjih (menimbang dan memutuskan yang terkuat) antara kepentingan pribadi dan kepentingan dakwah secara umum?

Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas dan yang seumpamanya , aktivis yang tulus ikhlas dapat memastikan sejauh mana hubungan tsiqah/kepercayaan terhadap pemimpin. Namun, hati, ia berada dalam genggaman Allah. Dia yang menggerakkan hati sekehendak-Nya.

“Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Al-Anfal:63)